KARIMUNESIA.co.id, KUNDUR – Tangis dan kepedihan pecah saat Delvin Andrean Pratama (18) ditemukan telah meninggal dunia di rumahnya, Jum’at, 16 Januari 2026.
Delvin nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Sontak saja mengguncang perasaan orang tua, saudara, sahabat, hingga seluruh warga RT 001 RW 001 Desa Lubuk, Kecamatan Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Santi, melangkah untuk membangunkan putra sulungnya, seperti hari-hari sebelumnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun yang ia temukan bukanlah wajah mengantuk sang anak, melainkan kenyataan pahit yang seketika meruntuhkan hatinya.
Roni, ayah Delvin, dengan tangan gemetar masih berusaha memberi pertolongan. Bersama dua adik korban, ia berharap ada keajaiban. Namun harapan pupus, Delvin telah berpulang.
Kapolsek Kundur AKP Septimaris membenarkan peristiwa tragis yang menggemparkan warga.
Ia mengungkapkan bahwa, korban diketahui masih beraktivitas normal dan bahkan sempat berkumpul bersama teman-temannya pada malam sebelum kejadian.
“Korban sempat berkumpul dengan rekan-rekannya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda adanya masalah. Setelah itu, korban pulang ke rumah untuk beristirahat,” ujar AKP Septimaris.
Terkait isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai dugaan persoalan asmara, Kapolsek menegaskan bahwa informasi tersebut masih sebatas asumsi dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
“Kami masih mengumpulkan fakta dan keterangan dari berbagai pihak. Dugaan adanya masalah pribadi belum bisa disimpulkan karena proses penyelidikan masih terus berjalan,” tegasnya.
Pihak kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi serta menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kasus ini kepada aparat penegak hukum agar tidak menimbulkan informasi yang menyesatkan.
Lebih jauh, AKP Septimaris menekankan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang perlunya kepedulian terhadap kondisi psikologis remaja, meskipun secara kasat mata terlihat baik-baik saja.
“Peristiwa ini mengingatkan kita semua agar lebih peduli terhadap kesehatan mental, khususnya pada usia remaja. Masyarakat diharapkan lebih peka terhadap perubahan perilaku anggota keluarga dan lingkungan sekitar,” tandasnya.
Berdasarkan hasil visum et repertum yang dilakukan oleh dr. Wahyu Ramanda, di RSUD Tanjungbatu, korban diperkirakan telah meninggal dunia sekitar empat jam sebelum ditemukan.
Tim medis memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. Namun, terdapat bekas jeratan di leher serta lebam mayat yang semakin menguatkan dugaan bahwa korban meninggal dunia akibat gantung diri.
Dari lokasi kejadian, aparat kepolisian mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya seutas tali dan sebuah kursi yang diduga digunakan korban sebelum mengakhiri hidupnya.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan pendalaman kasus dengan mengumpulkan keterangan dari keluarga, teman dekat korban serta sejumlah saksi lainnya untuk mengungkap latar belakang dan motif di balik peristiwa tragis tersebut.
Penulis: Izar
Editor: Lana












Komentar