Indonesia Genjot Industri Logam Tanah Jarang, Tantangan Mendesak Data Cadangan REE

- Penulis

Jumat, 5 Desember 2025 - 11:22 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Banyak potensi REE di Indonesia ini, terdapat pada mineral ikutan timah. Selama ini, mineral ikutan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal dapat menjadi kunci untuk membangun industri REE dari hulu ke hilir.(Foto: Istimewa)

Banyak potensi REE di Indonesia ini, terdapat pada mineral ikutan timah. Selama ini, mineral ikutan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal dapat menjadi kunci untuk membangun industri REE dari hulu ke hilir.(Foto: Istimewa)

KARIMUNESIA.co.id, JAKARTA – Pemerintah Indonesia serius mendorong pengelolaan dan pengembangan industri Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements/REE), sebagai strategi nasional untuk memperkuat industri teknologi dan membuka potensi ekonomi baru.

Langkah ambisius ini, meskipun strategis untuk industri masa depan seperti baterai kendaraan listrik, turbin angin dan panel surya, terganjal oleh masalah mendasar.

Praktisi Penambangan Timah, Ichwan Azwardi, menyoroti permasalahan tersebut. Meskipun potensi REE di Indonesia sangat mungkin ada, absennya data resmi ini menjadi hambatan utama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah terbesar dalam pengembangan industri REE nasional adalah ketiadaan cadangan REE yang terdata secara resmi,” ujar Azwardi, Jum’at, 5 Desember 2025.

BACA JUGA:  Lewati Beragam Tahapan Seleksi, 36 Siswa Raih Kesempatan Masuk Kelas Beasiswa PT Timah

“Secara global, Indonesia belum diidentifikasi sebagai negara yang memiliki cadangan REE, padahal potensi tersebut sebenarnya ada,” tambah Azwardi.

Menurutnya, status Indonesia yang belum terdaftar sebagai pemilik cadangan REE dunia secara signifikan melemahkan daya tarik investasi.

“Investor dan mitra internasional cenderung mencari negara dengan data cadangan yang jelas dan terverifikasi untuk menjamin kelangsungan pasokan,” pungkasnya.

Praktisi Penambangan Timah, Ichwan Azwardi.(Foto: Istimewa)

Ketiadaan data cadangan REE yang terverifikasi secara resmi

Dengan tidak terinformasikannya Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan REE, maka kata Azwardi akan sangat sulit menarik investor untuk masuk dan bekerja sama. Karena itu, eksplorasi harus dilakukan secara serius dan menyeluruh.

BACA JUGA:  ERG PT Timah Menjangkau di Tengah Keterpencilan Aceh Tamiang

“Banyak potensi REE di Indonesia ini, terdapat pada mineral ikutan timah. Selama ini, mineral ikutan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal dapat menjadi kunci untuk membangun industri REE dari hulu ke hilir,” bebernya.

Untuk itu Ia memastikan agar segera dilakukan langkah prioritas eksplorasi mendalam untuk mendapatkan data cadangan yang valid.

“Selanjutnya operasi produksi harus mampu menjangkau dan mengolah mineral ikutan timah, termasuk REE,” imbuhnya.

Langkah tersebut kata Azwardi dianggap krusial, agar Indonesia dapat bersaing dalam industri global mineral kritis.

BACA JUGA:  Kisah Roteni, Membawa Bunda Fresh Menembus Pasar Lewat Kekuatan Legalitas

“Pemerintah melalui Kementerian ESDM sendiri telah menargetkan percepatan hilirisasi mineral kritis, termasuk REE, sebagai penopang ketahanan energi dan teknologi masa depan,” ucap Azwardi.

Namun demikian, para praktisi menekankan bahwa fondasi data yang kuat dan kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak agar industri REE Indonesia dapat berkembang dan merealisasikan potensi ekonomi yang ada.

“Para praktisi menekankan bahwa fondasi data yang kuat dan kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak agar industri REE Indonesia dapat berkembang dan merealisasikan potensi ekonomi yang ada,” tandasnya.(Izar)

Facebook Comments Box

Berita Terkait

PT Timah Perkuat Pemberdayaan Nelayan, dari Bantuan Alat Tangkap hingga Pelestarian Pesisir
Eva Dayanti Dorong Pemanfaatan AI yang Bijak dalam Produksi Konten dan Jurnalisme
Festival Media Selat Malaka 2026 Dibuka di Batam, Bahas Tantangan Jurnalisme di Kawasan Perbatasan
Karhutla Jadi Sorotan di Fesmed Selat Malaka, Jurnalis Diminta Tak Asal Salahkan Masyarakat Adat
Penyanyi Asal Lampung, Chimon, Sabet Juara 1 Singing Event Respect Band
Karhutla di Meranti Meluas hingga 85 Hektar, Polisi Tetapkan Satu Tersangka
Wadah Kreativitas, Respect Band Batam Gelar Lomba Karaoke Live Streaming di Sugo
PT Timah Perbarui Rencana Pemberdayaan Masyarakat di Kepulauan Meranti
Berita ini 10 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 16:14 WIB

PT Timah Perkuat Pemberdayaan Nelayan, dari Bantuan Alat Tangkap hingga Pelestarian Pesisir

Sabtu, 19 September 2026 - 19:08 WIB

Eva Dayanti Dorong Pemanfaatan AI yang Bijak dalam Produksi Konten dan Jurnalisme

Sabtu, 19 September 2026 - 10:33 WIB

Festival Media Selat Malaka 2026 Dibuka di Batam, Bahas Tantangan Jurnalisme di Kawasan Perbatasan

Rabu, 16 September 2026 - 23:46 WIB

Karhutla Jadi Sorotan di Fesmed Selat Malaka, Jurnalis Diminta Tak Asal Salahkan Masyarakat Adat

Kamis, 10 September 2026 - 16:50 WIB

Penyanyi Asal Lampung, Chimon, Sabet Juara 1 Singing Event Respect Band

Berita Terbaru