KARIMUNESIA.co.id, JAKARTA – Pemerintah Indonesia serius mendorong pengelolaan dan pengembangan industri Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements/REE), sebagai strategi nasional untuk memperkuat industri teknologi dan membuka potensi ekonomi baru.
Langkah ambisius ini, meskipun strategis untuk industri masa depan seperti baterai kendaraan listrik, turbin angin dan panel surya, terganjal oleh masalah mendasar.
Praktisi Penambangan Timah, Ichwan Azwardi, menyoroti permasalahan tersebut. Meskipun potensi REE di Indonesia sangat mungkin ada, absennya data resmi ini menjadi hambatan utama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Masalah terbesar dalam pengembangan industri REE nasional adalah ketiadaan cadangan REE yang terdata secara resmi,” ujar Azwardi, Jum’at, 5 Desember 2025.
“Secara global, Indonesia belum diidentifikasi sebagai negara yang memiliki cadangan REE, padahal potensi tersebut sebenarnya ada,” tambah Azwardi.
Menurutnya, status Indonesia yang belum terdaftar sebagai pemilik cadangan REE dunia secara signifikan melemahkan daya tarik investasi.
“Investor dan mitra internasional cenderung mencari negara dengan data cadangan yang jelas dan terverifikasi untuk menjamin kelangsungan pasokan,” pungkasnya.

Ketiadaan data cadangan REE yang terverifikasi secara resmi
Dengan tidak terinformasikannya Indonesia sebagai negara yang memiliki cadangan REE, maka kata Azwardi akan sangat sulit menarik investor untuk masuk dan bekerja sama. Karena itu, eksplorasi harus dilakukan secara serius dan menyeluruh.
“Banyak potensi REE di Indonesia ini, terdapat pada mineral ikutan timah. Selama ini, mineral ikutan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal dapat menjadi kunci untuk membangun industri REE dari hulu ke hilir,” bebernya.
Untuk itu Ia memastikan agar segera dilakukan langkah prioritas eksplorasi mendalam untuk mendapatkan data cadangan yang valid.
“Selanjutnya operasi produksi harus mampu menjangkau dan mengolah mineral ikutan timah, termasuk REE,” imbuhnya.
Langkah tersebut kata Azwardi dianggap krusial, agar Indonesia dapat bersaing dalam industri global mineral kritis.
“Pemerintah melalui Kementerian ESDM sendiri telah menargetkan percepatan hilirisasi mineral kritis, termasuk REE, sebagai penopang ketahanan energi dan teknologi masa depan,” ucap Azwardi.
Namun demikian, para praktisi menekankan bahwa fondasi data yang kuat dan kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak agar industri REE Indonesia dapat berkembang dan merealisasikan potensi ekonomi yang ada.
“Para praktisi menekankan bahwa fondasi data yang kuat dan kolaborasi lintas sektor menjadi syarat mutlak agar industri REE Indonesia dapat berkembang dan merealisasikan potensi ekonomi yang ada,” tandasnya.(Izar)












Komentar