KARIMUN, KARIMUNESIA.co.id – Penilaian Lomba Festival Lampu Hias Eid Mubarak 1447 Hijriah di Kabupaten Karimun resmi dimulai sejak 8 Maret 2026.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu tradisi tahunan yang selalu dinanti masyarakat untuk memeriahkan bulan Ramadan sekaligus menyambut Hari Raya Idul Fitri.
Tim juri lapangan dari panitia turun langsung ke berbagai kecamatan untuk menilai karya lampu hias yang dibuat oleh masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beragam desain unik dengan perpaduan cahaya warna-warni menghiasi lingkungan warga dan menciptakan suasana Ramadan yang semakin semarak.
Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Karimun, Ahadian Zulseptriadi, mengatakan, proses penilaian dilakukan secara bertahap sesuai jadwal dan rute yang telah ditentukan panitia.
“Penilaian diawali dari Kecamatan Moro dan dilanjutkan ke Kecamatan Durai. Selanjutnya pada 10–11 Maret 2026, tim juri menilai peserta di wilayah Pulau Kundur, dimulai dari Kecamatan Kundur Barat dan Kundur Utara, kemudian dilanjutkan ke Kecamatan Kundur,” terang Ahadian, Jum’at, 13 Maret 2026.
“Untuk tanggal 12 Maret 2026, penilaian dilaksanakan di wilayah Pulau Karimun. Sementara pada 13 Maret tim juri akan melanjutkan penilaian ke Kecamatan Buru,” tqmbah Ahadian.
Ia menjelaskan, masyarakat juga dapat mengetahui informasi jadwal penilaian serta lokasi peserta melalui media sosial resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Karimun.
Dalam proses penilaian, tim juri memperhatikan sejumlah aspek utama, di antaranya kreativitas, inovasi, keindahan, serta nilai estetika dari desain lampu hias yang ditampilkan.
“Desain yang mampu menyampaikan pesan religi juga menjadi nilai penting dalam penilaian,” jelasnya.
Selain itu, ia menyebut, kombinasi warna lampu yang harmonis, tata letak yang rapi dan proporsional, hingga tampilan keseluruhan yang menarik juga menjadi perhatian tim juri.
“Ide unik yang berbeda dari peserta lain turut menjadi nilai tambah, termasuk penggunaan teknologi seperti lampu LED, animasi cahaya hingga berbagai efek warna,” beber Ahadian.
Tak hanya soal keindahan, faktor keselamatan instalasi juga menjadi bagian penting dalam penilaian. Tim juri memastikan kabel tertata rapi, struktur bangunan kokoh serta lampu berfungsi dengan baik.
“Ukuran bangunan utama, jumlah lampu yang digunakan, hingga kondisi lampu yang menyala juga menjadi pertimbangan. Keselamatan peserta dan masyarakat tetap menjadi prioritas,” tambahnya.
Panitia juga berharap masyarakat di sekitar lokasi lampu hias dapat menjaga kekompakan serta ikut berpartisipasi dalam memeriahkan festival ini.
Penilaian lomba lampu hias ditargetkan selesai sebelum malam puncak 7 Likur, yang merupakan tradisi masyarakat Melayu dalam menyambut Idul Fitri.
“Seluruh lampu hias diwajibkan menyala saat malam penilaian agar tampilannya dapat dinilai secara maksimal,” katanya.
Selain itu, kata Ahadian, lampu hias juga diharapkan kembali dinyalakan pada malam 7 Likur dan malam Idul Fitri untuk menambah kemeriahan suasana perayaan di Kabupaten Karimun.
“Sementara untuk kategori kereta hias, penilaian akan dilakukan saat kegiatan pawai atau parade kereta hias yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan malam Idul Fitri 1447 Hijriah di Kabupaten Karimun,” tandasnya.
Penulis: Izar
Editor: Lana












Komentar