KARIMUNESIA.co.id, KARIMUN – Suara mesin motor klasik mungkin tak lagi sekeras deru kendaraan modern.
Namun, bagi para anggota Motor Antik Club Karimun (MACK), suara mesin tua justru menyimpan cerita tentang persahabatan, perjalanan, dan kebersamaan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.
Pada 9 September 2026, MACK genap berusia 17 tahun. Bukan usia yang singkat bagi sebuah komunitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah kesibukan dan perubahan zaman, komunitas yang lahir dari kecintaan terhadap motor klasik ini masih mampu mempertahankan eksistensinya di Kabupaten Karimun.
Tahun ini, anniversary ke-17 MACK mengusung tema “Raga Berjauh, Hati Tetap Utuh.”
Tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata, melainkan gambaran perjalanan para anggota yang kini memiliki kesibukan dan aktivitas masing-masing, namun tetap menjaga ikatan persaudaraan.
Ketua MACK Karimun, Agus Ridwan, mengungkapkan, tema tersebut menggambarkan bagaimana kebersamaan tetap dapat dipertahankan meski jarak dan kesibukan terkadang membuat para anggota tidak selalu dapat berkumpul.
“Raga boleh berjauh, tetapi hati tetap utuh. Walaupun masing-masing anggota memiliki kesibukan, kami tetap menjaga silaturahmi dan kebersamaan,” ingAgus, Rabu (9/9/2026) petang.
MACK sendiri kata Agus, pertama kali terbentuk pada 9 September 2009. Saat itu, sejumlah anak muda di Karimun yang memiliki kegemaran terhadap motor klasik sepakat membentuk sebuah komunitas.
“Berawal dari kesamaan hobi, perjalanan MACK kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat berkumpulnya para pecinta kendaraan lawas,” jelas Agus.
Ia berujar, motor klasik menjadi pintu masuk untuk membangun pertemanan. Dari pertemanan tumbuh rasa kebersamaan, dan dari kebersamaan lahir kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
“Selama 17 tahun perjalanan, MACK tidak hanya sibuk dengan urusan motor. Komunitas ini juga berupaya mengambil bagian dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan di Kabupaten Karimun,” ujar Agus.
Kegiatan sosial kata Agus, menjadi salah satu warna perjalanan MACK. Komunitas tersebut pernah menggelar sunat massal serta ikut dalam kegiatan memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia di panti asuhan.
“Bagi MACK, keberadaan komunitas bukan hanya tentang mempertahankan kendaraan klasik agar tetap hidup di jalanan,” terang Agus.
“Lebih jauh, keberadaan komunitas diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambah Agus.
Ia menyebut, MACK juga kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan Pemerintah Kabupaten Karimun. Salah satunya dalam pawai ta’aruf pada kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ).
“Kehadiran motor-motor klasik dalam berbagai kegiatan daerah sekaligus menjadi cara tersendiri bagi MACK untuk memperkenalkan komunitas mereka kepada masyarakat luas,” katanya.
Tak berhenti di kegiatan sosial dan pemerintahan, masih kata Agus, MACK juga pernah ikut berkontribusi memperkenalkan potensi pariwisata Karimun melalui program Ragam Indonesia yang tayang di Trans7.
Di balik aktivitas MACK, terdapat sebuah sekretariat yang menjadi tempat para anggota berkumpul.
“Tempat tersebut bukan hanya digunakan untuk membahas motor, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar cerita, menjaga silaturahmi, serta menyusun berbagai rencana kegiatan komunitas,” imbuhnya.

Di tengah kesibukan anggota yang berbeda-beda, sekretariat menjadi salah satu ruang yang menjaga agar komunikasi dan kekompakan tetap terpelihara.
“Sebab, bagi sebuah komunitas yang telah berjalan selama 17 tahun, mempertahankan kebersamaan tentu bukan perkara mudah,” pungkasnya.
Agus mengakui, ada anggota yang memiliki pekerjaan, keluarga, dan aktivitas masing-masing. Pertemuan yang dahulu mungkin mudah dilakukan, kini harus menyesuaikan waktu.
“Namun, jarak dan kesibukan tidak serta-merta menghapus rasa memiliki terhadap komunitas,” sebut Agus.
Memasuki usia ke-17, Agus berharap MACK tidak hanya mampu mempertahankan eksistensinya, tetapi juga terus menjadi bagian dari berbagai kegiatan positif di Kabupaten Karimun.
“Harapan kami, MACK selalu eksis dan terus mendukung program-program positif, baik kegiatan sosial maupun program yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Karimun,” harap Agus.
Bagi Agus, perjalanan MACK selama 17 tahun menunjukkan bahwa sebuah komunitas dapat bertahan bukan hanya karena kesamaan hobi, tetapi juga karena adanya rasa saling memiliki.
Motor klasik boleh menjadi identitas mereka. Namun, persaudaraan adalah alasan yang membuat komunitas tersebut tetap berjalan.
“Selama 17 tahun perjalanan, MACK tidak hanya mempertahankan kecintaan terhadap motor klasik, tetapi juga membangun nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosial,” katanya.
Semangat itulah yang ingin terus dipertahankan MACK di tahun-tahun mendatang. Menjadi wadah bagi para pecinta motor klasik, sekaligus tetap hadir dalam kegiatan sosial dan pembangunan daerah.
“Memasuki usia 17 tahun, MACK berharap dapat terus menjadi wadah positif bagi para pecinta motor klasik sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah,” tutur Agus.
17 tahun kata Agus, bukan sekadar angka bagi MACK. Ini merupakan rekam perjalanan tentang hobi yang berubah menjadi persaudaraan, tentang komunitas yang tumbuh bersama masyarakat, dan tentang bagaimana jarak tidak selalu mampu memisahkan mereka yang memiliki satu hati.
“Raga Berjauh, Hati Tetap Utuh. MACK, walaupun tak sedarah, tetap bersaudara,” tandasnya.
Penulis: Izar
Editor: Lana














Komentar