PANGKALPINANG, KARIMUNESIA – Kinerja awal 2026, PT Timah (Persero) Tbk menunjukkan tren positif di tengah volatilitas harga komoditas global.
Disadur dari laman ruangenergi.com, emiten berkode saham TINS itu berhasil mencatat lonjakan kinerja pada Januari 2026, didorong oleh pergerakan harga timah dunia yang cenderung menguat.
Direktur Produksi dan Komersial PT Timah (Persero) Tbk, Ilhamsyah Mahendra, mengungkapkan, meskipun harga timah mengalami fluktuasi, dalam beberapa waktu terakhir arahnya menunjukkan tren kenaikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut berdampak langsung pada peningkatan penjualan, performa operasional, hingga laba bersih perusahaan.
“Dari sisi penjualan dan kinerja operasi, capaian Januari berada di atas target. Kenaikan harga komoditas juga mendorong pertumbuhan laba bersih yang tumbuh signifikan di Januari, di atas 100 persen dari yang kita rencanakan,” ujar Ilhamsyah, Minggu (1/3/2026).
Harga timah jadi katalis utama
Manajemen berharap harga timah global dapat bertahan di kisaran 45.000 hingga 48.000 dolar AS per ton setidaknya hingga kuartal I 2026.
“Kisaran harga tersebut dinilai menjadi katalis utama dalam memperkuat kinerja perseroan,” jelas Ilhamsyah.
Meski analis memprediksi harga komoditas tetap bergerak naik turun, momentum positif saat ini dinilai perlu dimaksimalkan melalui strategi produksi dan efisiensi yang tepat.
Ilhamsyah menjelaskan, penguatan harga timah tidak terlepas dari faktor fundamental global, khususnya peningkatan permintaan dari sektor teknologi.
“Kebutuhan timah untuk industri artificial intelligence (AI), semikonduktor, hingga pembangunan pusat data (data center) meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir,” paparnya.
Di sisi lain, kata Ilhamsyah, pertumbuhan pasokan global relatif stagnan. Ketidakseimbangan antara permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas menciptakan defisit pasar, sehingga mendorong harga naik.
“Permintaan tumbuh cukup pesat, sementara pasokan tidak mengalami pertumbuhan signifikan. Ini menjadi salah satu key driver kenaikan harga timah secara global,” jelasnya.
Untuk tahun buku 2026, PT Timah menargetkan produksi sebesar 30.000 metrik ton.
“Guna mencapai target tersebut, perusahaan akan menjalankan sejumlah langkah strategis, mulai dari optimalisasi teknologi, peningkatan efisiensi operasional, hingga penguatan kolaborasi internal dan eksternal,” ungkap Ilhamsyah.
Tidak hanya itu saja, Ilhamsyah menyebut, manajemen juga menilai dukungan regulasi yang semakin kondusif menjadi faktor pendukung kinerja perusahaan ke depan.
“Kita cukup optimistis karena selain tren harga yang positif, konsolidasi internal dan komunikasi dengan para pemangku kepentingan, khususnya dari sisi regulasi, jauh lebih baik sehingga mendukung kinerja operasional,” ucap Ilhamsyah.
Dengan kombinasi tren harga yang menguat, strategi operasional agar dapat menjadi lebih agresif.
“Sekaligus dukungan regulasi, PT Timah optimistis tahun 2026 akan menjadi periode yang solid bagi perseroan,” tandasnya.
Penulis: Izar
Editor: Lana












Komentar