KARIMUN, KARIMUNESIA.co.id – Pemerintah Kabupaten Karimun resmi mengalokasikan dana sebesar Rp1 miliar dalam APBD 2026 hanya untuk penyusunan Detail Engineering Design (DED) gedung pertemuan berbentuk rumah siput.
Bangunan yang direncanakan berdiri di kawasan Jembatan Sanur ini diproyeksikan menjadi ikon baru untuk menarik wisatawan mancanegara.
Meskipun secara konsep bertujuan menciptakan multiplier effect ekonomi, rencana ini memicu diskursus serius mengenai skala prioritas dan manajemen risiko proyek pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Wakil Ketua II DPRD Karimun, Adi Hermawan, mengingatkan kondisi keuangan daerah belum sepenuhnya stabil.
“Mengalokasikan puluhan miliar untuk bangunan ikonik di tengah ketidakpastian fiskal berisiko mengorbankan sektor pelayanan publik yang lebih mendesak seperti pendidikan atau kesehatan,” ujar Adi, usai pembahasan bersama pemerintah daerah, Sabtu (28/2/2026).
Kritikan keras tertuju pada rekam jejak pembangunan di Karimun. Adi menyebut, terdapat kekhawatiran besar bahwa gedung rumah siput ini akan menambah daftar proyek mangkrak jika perencanaan keuangan tidak matang.
“Memulai proyek baru saat proyek lama belum tuntas dinilai sebagai langkah yang kurang bijak secara manajerial,” tegasnya.
Adi menambahkan, membangun simbol daerah memang penting untuk branding, namun efektivitas biaya (cost-benefit analysis) harus diuji secara transparan.
“Apakah gedung pertemuan merupakan solusi terbaik untuk mendongkrak ekonomi masyarakat, atau justru hanya akan menjadi aset yang membebani biaya pemeliharaan di masa depan,” katanya.
Adi menyebut, desain yang tidak lazim (bentuk rumah siput) biasanya berimplikasi pada biaya konstruksi yang jauh lebih mahal dibandingkan bangunan konvensional.
“Pemerintah perlu membuktikan bahwa desain ini bukan sekadar mengejar estetika, melainkan memiliki fungsionalitas yang tinggi,” imbuhnya.
Untuk itu, Adi berpesan agar pembangunan fisik diharapkan tidak dilakukan secara tergesa-gesa.
“Tanpa kajian teknis dan finansial yang mendalam, ikon rumah siput ini dikhawatirkan justru menjadi simbol pemborosan anggaran daripada simbol kemajuan daerah,” pungkasnya.
Penulis: Izar
Editor: Lana

Komentar Batalkan balasan